Rabu, 22 April 2009

Cerita Ngentot Memek Agnes

Malam semakin larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami semakin dekat satu sama lain, saling curhat selama perjalanan di mobil. Bercanda, tertawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we're together? Ah mungkin aku aja yang terlalu terbawa suasana. Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kami kembali menginjakkan kaki di lobby hotel."Raffi, mau nemenin ngobrol sebentar tidak?" tanya Agnes tiba-tiba."Boleh aja, emang belum ngantuk?" tanyaku balik."Tidak, lagipula kalau di tempat yang asing Agnes jadi susah tidur," katanya memberi reasoning.Akhirnya aku ikut melangkahkan kaki ke kamar Agnes yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang. Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe."Lha kamu sendiri di sini?" tanya aku begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya."Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga," jelasnya."Tapi dia

langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya."Kami

memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati

secangkir coffemix panas. Kursi sengaja kami balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang

telah temaram dan senyap. Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah

malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan

kami, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan. Entah mengapa, aku merasa begitu dekat dengan Agnes,

padahal baru beberapa jam kami berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin aku terlalu terbawa suasana.Namun kali ini

ternyata Agnes yang duduk di sebelah aku bukanlah seperti Agnes yang aku kenal dalam jam-jam terdahulu. Dalam

curhatnya, ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib aku untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari

dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, aku selalu dijadikan tempat curhat

orang-orang dalam lingkaran terdekat aku. Dan kini aku harus menghadapi Agnes yang sesekali sesunggukkan, meremas-

remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu.

Love.. look what you have done to her, bastard..!aku bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. aku hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan. aku mencoba menenangkannya sebisa aku dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. aku hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidakseAgnesan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.Setelah beberapa waktu kami membahasnya, Agnes terlihat sudah agak tenang."Thanks Raffi, kamu mau jadi tempat sampah Agnes," katanya sambil sedikit tersenyum."That what friends are for," jawab aku singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada aku, hehehe.. pamali tau..!aku duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki. Hhmm.. enak juga duduk posisi seperti ini.


Tidak berapa lama kemudian Agnes menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi lesehan di

sampingku."Kayaknya enak banget lihat gaya kamu," katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet."Raffi, kamu itu

aneh yah?" tiba-tiba suara Agnes menyentakku."Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?" tanya aku asal sambil

menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu."Hihihihi.." terdengar Agnes cekikikan

mendengarnya."Ya aneh aja, Agnes baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Agnes udah kenal sama kamu lama banget,"

katanya lagi."Sampai Agnes mau curhat sama kamu, padahal Agnes paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru

kenal.""Sama, aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kami pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah?" jawab aku

sambil nyengir."Ada-ada aja kamu.." katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku.Jujur saja aku

cukup terkejut menerima perlakuannya, tapi santai saja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk

menyandarkan kepala sejenak?Cukup lama kami masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian

horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan

Sinnead O'Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya:..I can eat my dinner in the fancy restaurant but

nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you..Perlahan aku usap

rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Agnes mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa

saat kami saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini aku cari? Mungkinkah

aku menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama aku mencarinya entah kemana? How can I be so

sure about that? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami

berpandangan. Yang aku tahu beberapa saat kemudian wajah kami semakin mendekat dan sekilas aku melihat Agnes

menutup matanya dan pada akhirnya aku kecup lembut bibirnya.Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang

telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan aku raih pinggang

Agnes dan mendudukkannya dalam pangkuan. Kini kami semakin dekat karena Agnes aku rengkuh dalam pangkuan aku. aku

usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia

lepaskan. Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Agnes yang terdengar begitu lembut. Akhirnya

aku memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibir ke arah lehernya. "Ugh.." hanya terdengar lenguhan lembut

seorang Agnes ketika ia mulai merasakan hangatnya bibir aku menjelajahi lehernya. Tidak ada perlawanan dari aksi

yang aku lakukan. Agnes justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang.

Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan. aku pun semakin terhanyut terbawa suasana. aku

perlakukan Agnes selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin

menekankan punggungnya ke arah tubuhku. "Raffi.. oohh.." lenguh Agnes saat dia menyadari terlepasnya satu per satu

kancing kemejanya. Ya.. aku memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuan aku kepadanya.Jilatan-jilatan lembut

mulai menjalari dada Agnes, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami. Dengan sekali gerakan, aku dapat

menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri dengan Agnes dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas tubuh Agnes yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih. Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya aku merebahkannya di ranjang.

Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum aku meraih tombol off TV yang terletak

di buffet samping ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk

bercumbu. Agnes mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya,

hampir bersamaan saat aku berhasil melepaskan bra-nya. Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh

menyusup ke dalam hatiku. She's different, pikirku. Jujur saja, aku sudah beberapa kali mengalami sexual

intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja aku kenal. Namun kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang

mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi

keberadaannya. akung, yah mungkin inilah yang disebut dengan perasaan akung itu, sesuatu yang sudah lama tidak

aku rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Agnes bukan hanya

seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best!

Terdengar lagi lenguhan Agnes saat aku mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar

putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. aku meneruskan cumbuan aku ke arah perutnya, hingga pada

akhirnya berhasil membebaskan celana panjangnya ke karpet. Sekarang terpampang pemandangan yang tidak mungkin aku

lupakan, seorang Agnes yang baru aku kenal hari ini, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam. Untuk pertama

kalinya aku memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini tidak dengan nafsu yang menguasai. Begitu terasa

bagaimana aku memang menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu

banyak kedamaian, sesuatu yang terus aku cari selama ini dari diri seorang wanita.Kini aku mengulum pusarnya,

seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan aku mulai menurunkan kain terakhir yang

menempel pada tubuh Agnes. Terdengar sedikit nada terkejut Agnes saat aku mulai menurunkan centi demi centi celana

dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, aku mulai menurunkan jilatan ke

arah selangkangannya. "Raffi.. mau ngapain.. uugghh.." pertanyaan yang coba diajukan Agnes tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di organ kewanitaannya. Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang aku usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Agnes semakin terbakar.

"Ohh.. Raffii.." lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.Hisapan dan jilatan silih berganti aku lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Agnes seperti mendekati puncaknya. "Aaahh.." jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.Kini aku memandang wajahnya. Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri dan tangannya yang mencengkram seprai di tepian ranjang dengan kencang serta nafasnya yang tidak beraturan cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Agnes terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya. aku biarkan Agnes meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja

didapatnya untuk menyibukkan diri mencari sebuah benda yang "lubricated with nonoxynol 9, for greater protection"

(If you were a great 17tahun2 fan, you should know this thing) yang selalu disisipkan di dompetku (my friend said

that only bastards always bring this thing around. Yeah.. maybe I'm the one of them).Agnes baru membuka matanya

ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir organ kewanitaannya. Dibukanya matanya memandang lembut

ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. "Agnes, may I..?" bisikku sambil mengecup keningnya. Agnes hanya mengedipkan kedua matanya sekali sambil tetap memandangku. That's enough for me to know the answer of this

question. Perlahan-lahan aku tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Terdengar

nafas Agnes tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang dilakukanku terhadapnya,

hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya

raga (dan hati) kami berdua. aku kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah percintaan yang

sangat indah. aku masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat di sisi tepi ranjang

saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa

hangat melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.Entah

berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Agnes mulai mendekati orgasme keduanya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya. Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. aku pun meningkatkan kecepatan penetrasi untuk membantunya mendapatkan puncak kedua kalinya.

"Eeegghh.. Raffii.. aahh.." jerit Agnes tertahan mencoba menyebut namaku saat

gelombang orgasme keduanya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang

sangat dalam.aku menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya

seusai melewati puncaknya yang kedua. aku hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada

akhirnya Agnes mulai membuka matanya."You're so lovely tonight", bisikku padanya."Raffii.. eh..!" teriaknya sedikit

terkejut saat tiba-tiba aku menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkannya dalam pangkuanku.Punggungku

bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman. Perlahan kuangkat tubuhnya,

untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat

kudengar erangan lirihnya saat Agnes merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.Kali ini kubiarkan

Agnes memegang kendali. Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Agnes memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku.
aku hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batangkuterasa makin dalam menghujamnya. Ahh.. sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. Ughh.. It's really a loveable thing to see.Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, aku ras aku akan sampai puncaknya, pikir aku. "Raffii.. I'm almost there.." bisik Agnes lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku. "Yes.. babe, me too.." jawabku sambil engecup erat bibirnya. Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.


"Aaahh.. Raffii.." jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.aku masih

sempat meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada akhirnya.."Agnesa.., aku keluaarr..!" teriakku sambil mendekap erat tubuhnya.Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar. Untung aku menggunakan kondom, masih sempat diriku berpikir di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi kenikmatan yang sangat dahsyat. Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda